Sodara,
Suatu siang, di suatu hari, pas saya pengen ke kantor (halah, ke kantor kok pengen) saya mengalami kejadian yang menarik.
Waktu itu, seperti biasa, saya berangkat dari kost menuju kantor naik Koantas Bima 102 (kendaraan umum yang bentuknya sama kayak Kopaja ato Metromini gitu, cuma warnanya aja yang beda, jika dibandingin sama Kopaja ato Metromini, sopir Koantas Bima lebih nggak ngerti di mana posisi rem).
Seperti biasa, saya berdiri di pinggir jalan untuk mencegat Koantas Bima. Satu, dua, tiga Koantas Bima saya biarkan lewat begitu saja, soalnya udah penuh semua. Lalu saya berjanji pada diri saya sendiri, jika mobil keempat nanti masih penuh saja, maka saya akan memaksakan diri untuk naik juga.
Dan seperti biasanya, bahwa kenyataan memang tak pernah seindah dengan yang diangankan. Koantas Bima keempat yang lewat di depan saya sudah sarat akan penumpang. Malahan, sudah nggak ada tempat lagi buat si kenek sehingga dia harus berada di samping mobil, berlari (Nggak kok, ini cuma hiperbola aja, hehehe).
Dan karena saya orang yang selalu menepati janji, maka saya segera melambaikan tangan, dan bajaj yang melaju di depan saya pun langsung menikung 96 derajat langsung parkir di depan saya. Dengan santai saya berjalan ke belakang bajaj tersebut dan naik Koantas Bima yang dipaksa berhenti oleh bajai tersebut karena terhadang.
Di dalam Koantas Bima tersebut saya berdiri, berpeluh, dan berdesakan. Saya mencoba untuk mencari lokasi yang tepat. Lokasi yang tepat untuk melirik seorang gadis cantik berpenampilan menarik yang duduk di bangku nomer 2 sebelah kiri. (informasi: untuk nomer bangku saya sematkan sendiri secara apriori).
Koantas Bima saya (Maksudnya yang saya tumpangi) melaju tanpa malu-malu di jalanan ibukota. (Kata melaju tanpa malu-malu di sini untuk memperhalus kata ugal-ugalan). Nggak tau kenapa, sepertinya si sopir begitu semangat memacu Koantas Bima tersebut.
Meskipun jalanan sangat-sangat-sangat padat merayap. Koantas Bima saya tanpa pandang bulu melaju serong kiri-serong kanan mencari celah untuk bisa segera merangsek ke depan. Si Sopir memberikan aba-aba kepada kenek untuk mencari jalan di depan. Si kenek pun sibuk menyuruh mobil atau motor di depan untuk menepi ke kiri atau bergeser ke kanan. Saat ada celah yang sekiranya cukup untuk melaju, Koantas Bima pun segera menusuk jantung pertahanan lawan (halah).
Dan akhirnya selepas melewati jalan sangat-sangat-sangat padat merayap, Koantas Bima saya dapat melaju lancar.
Tetapi secara tak terduga ada dua sedan hitam yang membunyikan klakson dan memepet Koantas Bima saya. Satu melaju dari samping kiri dan satu lagi menyalip dari samping kanan. Dan kedua-duanya menghentikan mobilnya di depan Koantas Bima saya. Setelah Koantas Bima berhenti sedan yang satunya kembali melaju tetapi sedan yang satunya (Kalo nggak salah Lancer hitam keluaran tahun 90-an akhir) masih malang (malang ki boso indonesane opo yo?) di depan Koantas Bima saya.
Semua penumpang keheranan dan bertanya-tanya apakah gerangan yang terjadi. Tetapi tak satupun dapat menemukan jawaban dengan jelas, benar dan pasti. Tetapi akhirnya secuplik demi secuplik jawaban terkuak saat si sopir sedan hitam berteriak-teriak dengan wajah garang sambil menunjuk samping kanan mobilnya yang mbaret. Ternyata Koantas Bima saya menyerempet sedan hitam itu, pas Koantas Bima saya melaju tanpa malu-malu tadi.
Si sopir Koantas Bima tetap duduk santai di kursinya, sedangkan si kenek kebingungan berjalan kesana-kemari persis cerita dalam sinetron ketika seorang suami menunggui istrinya melahirkan (ingat ya, istrinya. Bukan istri temannya atau istri bosnya atau istri tetangganya).
Mulailah penumpang Koantas Bima berteriak-teriak untuk minta dioper (baru sekali ini saya melihat penumpang Koantas Bima minta untuk dioper, biasanya kalo dioper ngomel-ngomel). Dan untungnya ada Koantas Bima lainnya yang lewat. Kemudian dicegatlah Koantas Bima yang lewat tersebut sama si kenek. Satu demi satu penumpang secara rapi berpindah ke Koantas Bima yang satunya.
Si sopir Koantas Bima saya yang tadinya garang dan merasa dirinya Ali Topan Raja Jalanan tersebut menjadi diam dan menciut. Si kenek masih kebingungan seperti tadi. Sedangkan si sopir sedan hitam juga masih saja berteriak-teriak sambil mengelus-ngelus samping kanan mobilnya.
Saat para penumpang Koantas Bima berpindah dari yang pertama ke Koantas Bima yang kedua banyak yang menyapa si pengemudi sedan tersebut. Beberapa mengungkapkan rasa prihatinnya. Ada yang bilang,
“Sabar ya mas….”
“Jangan mau kalo diajak damai bang, tuntut aja.”
Di antara penumpang tersebut, ada lelaki setengah baya bertubuh tegap dengan setelan celana kain warna coklat dan kemeja kotak-kotak coklat muda berteriak kepada si sopir sedan tersebut.
“Jangan mau damai pak, tuntut aja, sopirnya memang ugal-ugalan dari tadi.” serunya.
Kemudian dia meneruskan omongannya,
“Lihat saya pak, nanti kalo sidang saya mau jadi saksinya, saya pasti mau jadi saksinya.” serunya dengan semangat ‘45.
Dia berkata begitu sambil naik ke Kontas Bima yang kedua dan mencari tempat duduk.
Kemudian saya berpikir, (maap ya bapak yang semangatnya ‘45) Saya sangat menghargai perjuangan bapak itu untuk menegakkan keadilan dengan mau menjadi saksi. Tetapi sekali lagi saya minta maap, kalo bapak pergi cuma ngomong gitu aja turs pergi dan ndak meninggalkan identitas apa-apa sama si sopir sedan hitam, gimana dia bisa menjadikan bapak saksi.
Saya hanya bisa tersenyum saja. Bapak ini sangat baik, mau membantu yang lainnya. Persis karakter bangsa Indonesia, suka menolong. Tetapi mungkin (sekali lagi ini mungkin lho) si bapak itu nggak berpikir agak panjang.
Selain bapak yang bersemangat 45 tadi ada satu lagi yang cukup menonjol dalam menyumbangkan suaranya. Jadi pas Koantas Bima kedua beranjak pergi ada satu pria muda dengan potongan seperti sales marketing (prototipe potongan sales marketing menurut saya: Celana kain yang disetlika licin, kemeja lengan panjang dengan warna yang soft, dasi garis-garis, sepatu kulit dan tas jinjing kulit, dengan rambut rapi ditarik kebelakang plus diminyaki).
Si potongan sales marketing ini juga ikut berteriak dari dalam Koantas Bima kedua,
“Udah biarin aja, dia kan orang kaya, orang kaya kok dibela.” Serunya.
Saya kemudian juga memikirkan omongan si potongan sales marketing ini. Apa memang benar si sopir sedan hitam itu orang kaya? Jangan-jangan dia memang bener-bener sopir. Ato apa benar si sopir sedan hitam ini kaya, jangan-jangan si sopir sedan hitam ini perlu bekerja membanting tulang, disiksa dan didera bertahun-tahun untuk bisa membeli mobil tersebut.
Saya jadi banyak berpikir di Koantas Bima kedua itu (Maap, membaca kalimat sebelumnya ini jangan lalu berprasangka kalo saya ndak pernah berpikir lho, pernah kok saya berpikir. Halah).
Ada dua kubu di Koantas Bima kedua itu, pembela dan pencela. Sedangkan saya memutuskan diri untuk tidak masuk ke dalam dua-duanya. Saya hanya pemerhati saja. Salah nggak ya cuma jadi pemerhati aja?
Jika sodara ada dalam situasi tersebut, bagemana menaggapinya? pilih jadi pembela, pencela ato pemerhati?Catatan:
Rute Koantas Bima 102
Ciputat/Lebak Bulus – Pondok Indah – Radio Dalam – Gandaria – Pakubuwono – Hang Lekir (di sini ada Kampus Moestopo Bersaudara) – Asia Afrika – Gerbang Pemuda Senayan – DPR – Slipi – Tanah Abang. Dan sebaliknya.



saya tak milih jadi pembaca cerita sampeyan saja hehehe