
*kanan ato kiri ya
Sodara,
Pernah ndak sodara sekalian kesulitan mengingat tempat atau lokasi, susah membedakan mana kiri dan kanan, atau mempunyai navigasi yang buruk. Saya mempunyai beberapa teman yang seperti itu.
Ceritanya begini,
Dulu, pas saya anyaran di ibukota, ada salah satu teman saya pengen maen ke kost. Sebagai teman yang baik, ya saya kasih ancer-ancernya. Jam 8 malam temen saya ini sms saya, “Saya meluncur sekarang bung, naek motor.” katanya. Dan saya pun menunggu. Tapi sampai jam 10 malam saya menunggu makhluk satu ini ndak dateng-dateng. Padahal jaraknya tak terlalu ndak jauh-jauh banget lho, Mampang-Dalam Radio.
Akhirnya tak lama kemudian dia datang. Saya tanya,”dari mana saja je, mas?”
“Keblasuk!” jawabnya sambil merebahkan badan di kasur. (keblasuk=tersesat)
“Woooo.” balas saya.
Wajar! Untuk mencari alamat di ibukota ini memang susah, saya sendiri sering mengalaminya. Tapi yang ndak wajar, teman saya yang ini, pada kunjungan kedua dan ketiga masih saja menghabiskan waktu 2 jam.
“Anu, macet!!!” katanya memberikan alasan.
Kemudian pada kunjungan selanjutnya, biar ndak tersesat lagi teman saya ini memutuskan untuk menggunakan angkutan umum. Sebagai teman yang baik saya pun ngasih ander-ancer bagaimana kalo naik angkutan umum ke kost saya.
“Saya meluncur ke situ!” sms teman saya ini.
Saya menunggu. Dan beberapa waktu kemudian ada sms lagi dari dia,
“Lupa saya.. Dr blok m jalur berapa?”
Haiyah…..
Kemudian pada kunjungan berikutnya lagi dia masuk kamar kost dengan nafas tersenggal-senggal dan tampang yang cukup lelah.
Sebagai teman yang baik saya bertanya, “Nopo je mas kok menggeh-menggeh?” (kenapa mas, kok kelihatannya capek)
Dia pun menjawab, “Kebablasan medunne.” (turunnya kejauhan)
haiyah……
Ada lagi teman saya yang lain yang juga mengalami sedikit gangguan dalam hal navigasi.
Ceritanya begini,
Pada suatu kali saya membonceng teman saya ini ke suatu tempat. Yang tau tempatnya saya, sedangkan dia ndak tau. Makanya saya ngasih komando dari bocengan kepadanya. Kiri atau kanan kalau mau berbelok. Dia pun nurut saja.
Suatu ketika pas di lampu merah teman saya ini nyalain rokok. Jadinya dia berkendaraan sambil ngerokok.
Nah, pas ngerokok itu dia selalu saja salah menanggapi aba-aba saya. Jadi, kalau saya bilang kiri dia malah belok kanan. Trus pas bilang kanan dia malah belok kiri.
Pas sampai di tujuan saya tanya dia,
Saya : Kok, salah belok terus sih?
Teman : Salah nyekel rokok. (Salah memegang rokok)
Saya : Ha????????
kemudian teman saya ini bercerita kalo biasanya dia ngerokok pake tangan kanan. Trus pas mboncengin saya dia terpaksa harus memegang rokoknya dengan tangan kiri karena tangan kanannya harus memegang gas dan mengendalikan rem. Jadi teman saya ini menganggap tangan kirinya yang memegang rokok itu adalah tangan kanan, jadinya salah belok terus.
Haiyah……..
Ada cerita lain mengenai teman saya yang salah pegang rokok ini. Pernah suatu saat dia melakukan perjalanan Jakarta ke Jogja naek motor. Dia berpikir kalo mau ke Jogja berarti ke arah timur. Karena dia berangkat sore hari, maka dia menjadikan bulan sebagai patokannya. Dalam pikirannya bulan terbit dari timur, jadi dia tinggal mengikuti bulan maka bisa sampai jogja. Korelasinya seperti itu.
Di tengah perjalanan, teman saya ini berhenti di SPBU untuk mengisi bensin. Karena lelah, dia duduk-duduk sebentar dan akhirnya ketiduran. Setelah bangun, tanpa babibu teman saya ini langsung mancal selah motornya dan melanjutkan perjalanannya dengan mengikuti bulan lagi. Alhasil dia kembali ke Jakarta. Soalnya, pas dia bangun sudah hampir subuh dan posisi bulan sudah tenggelam di barat.
Haiyah…..
*gambarnya saya pinjem dari sini.



tenan, kang.. jakarta memang membingungkan kok.
sabar dhe, mas-mu sing nang bang-jo chen rodo-rodo, saiki lagi kebanjiran.
Emang kok. Mosok wingi ngajak-i brotherhood-tan maneh.
Kekekkek.. kocakkk..
critane kok ono2 wae to… hehehe.