Masa Depan Media Cetak

11 01 2009

atm20funny20dogs20wacky20cash20machine 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sodara,
Cerita ini hasil ngudoroso saya dengan seorang bankirwati sebuah bank swasta.
Beberapa hari yang lalu kami memang sempat bertemu dan ngobrol. Obrolan kami mengenai masa depan industri media, khususnya media cetak.

Si bankirwati itu bertanya kepada saya, bagaimana masa depan industri industri media cetak?
Saya yang ndak tahu apa-apa ini pun hanya menjawab, “Masih bagus kok. Buktinya tahun 2008 kemarin banyak investor yang tertarik untuk masuk dalam persaingan industri media cetak. Ada beberapa koran baru,” tutur saya.

Si bankirwati itu pun bercerita, bahwa saat ini dia tak banyak membaca koran. Ia lebih suka membaca atau mencari informasi dari media online. Tentu saja, alat komunikasi yang saat ini dibawanya mendukung untuk itu. Ia membawa smart phone seri tercanggih keluaran produsen terkenal asal Finlandia.

Sedangkan media cetak, ia hanya baca sesekali saja, dengan catatan jika sempat. Dan media yang ia baca pun media tertentu. Oleh sebab itu wajar jika dia tak tau saat ini banyak koran baru. Beberapa nama koran yang saya sebutkan, ia tak mengenalnya.

Si bankirwati ini mempunyai pemikiran, kemungkinan besar masa depan media cetak di ujung tanduk. Melihat fenomena bahwa saat ini media online sudah berserakan. Media online mempunyai banyak kelebihan jika dibandingkan dengan media cetak. Tentu saja, media online lebih update informasinya. Itu yang banyak dibutuhkan orang saat ini. Untuk media cetak, paling banter saat ini hanya digunakan sebagai penghias meja tamu saja.

Saya mencoba menelusuri pemikiran si bankirwati tersebut. Dan ternyata, memang kemungkinan besar tak salah pemikiran dari bankirwati ini.

Beberapa waktu lalu, Setelah sekian lama akhirnya Pulitzer memperbolehkan media online ikut serta dalam kompetisi penghargaan jurnalistik Pulitzer. Dalam situs Pulitzer, alasan mereka membolehkan media online untuk ikut kompetisi karena saat ini media cetak Amerika Serikat sedang dalam masa suram.

Beberapa media besar menyatakan diri bangkrut dan menutup edisi cetaknya. Misalnya PC Magazine.  Pada November 2008 kemarin produk utama dari kelompok Ziff Davis Media berehenti beredar. Group media asal Amerika Serikat tersebut kini hanya menyediakan PC Magazine versi online saja.

Tribune Co., penerbit media massa terbesar nomor dua di negeri Paman Sam ini juga pada Desember kemarin menyatakan diri bankrut dan mengajukan perlindungan pailit kepada pemerintah. Salah satu yang menjadi alasan kebangkrutannya adalah tingkat pendapatan iklan untuk industri media cetak, yang menjadi andalan Tribune, merosot drastis akibat tergerus oleh pesatnya perkembangan industri layanan internet.

Tetapi kemudian, bankirwati itu kembali meralat omongannya. “Tapi kelihatannya nggak seperti itu deh, sepertinya media cetak tak bakal habis riwayatnya,” katanya. Kemudian dia pun mengungkapkan beberapa cerita mengenai industri perbankan.

Beberapa tahun lalu, saat maraknya bank mengeluarkan layanan online, banyak yang memprediksikan akan banyak kantor cabang bank akan tutup. Pasalnya, pelayanan secara face to face akan tergantikan dengan layanan online. Beberapa tahun lalu (bahkan hingga saat ini), bank-bank getol mengeluarkan layanan e banking alias electronic banking seperti ATM, internet banking, sms baking dan beberapa layanan lainnya.

Tetapi pada kenyataannya, saat ini masih banyak bank yang memperluas layanannya dengan membuka kantor-kantor cabang. Hal yang mendasarinya adalah masih banyak masyarakat Indonesia yang lebih percaya dengan layanan face to face daripada layanan online.

Dan bagaimana dengan masa depan bank, apakah layanan kantor cabang akan tergantikan dengan layanan online, bankirwati itu pun belum bisa mengatakannya. Begitu pula dengan saya, saya ndak berani menyimpulkan apakah media cetak akan tergantikan dengan media online.

Bagaimana dengan sampeyan, apakah percaya bahwa online akan menjadi masa depan bank dan media?

 

*fotonya saya ambil tanpa ijin dari sini.

Actions

Information

4 responses

11 01 2009
rudi

Media on line terus berkembang, memang. Media cetak di Indonesia masih bertahan selama kemiskinan masih merajalela, sebab jangankan mikir beli lap top atau komputer yang murah sekalipun (lengkap dengan perangkat on line-nya) mikir penghasilan yang tidak menentu bahkan cenderung tidak cukup saja sudah mumet.
Jadi, ya kalau pingin tahu pemberitaan tentang sesuatu, mending beli koran murah atau koran bekas kemarin.

Salam kenal

18 01 2009
samuelwibi

Tetep gue mah enakan baca buku atau koran De! Mata gak pedes… santai, cuma bayar sekali, bisa sambil diitemin. Tetep orang bakal baca koran ampe kapanpun, buku juga. Apa jangan 2 30 tahun lagi semua buku dan media jadi elektronik. Trus mati lampu gara2 bubb;e di energy. MAntep gak tuh? Makanya si Buffet kagak lepas2 tuh Washington Post.

Anyway, it’s your book, so it’s your call
Be better!

Samuel Wibi

4 11 2009
Alex

beberapa bulan lalu, di koran jawa pos bagian internasional. ada berita ttg perusahaan koran yg malah mengratiskan koran versi cetaknya. dan menarik biaya langganan untuk membaca di internet.

menurut saya sih… saya condong setuju dengan anda yg mengatakan “ndak berani menyimpulkan apakah media cetak akan tergantikan dengan media online.” biarkan waktu yg menjawab.

tapi saya jg ada pendapat lagi yg lain. yaitu 2 media ini akan tetap berjalan bersamaan.

4 11 2009
Alex

maaf ada yg kelupaan. alasan saya kenapa media cetak dan elektronik akan berjalan bersamaan, salah satunya adalah masalah pembajakan.

ebook lebih mudah dibajak. secanggih apapun keamanan media elektronik biasanya cepat atau lambat akan bisa ditembus. contohnya VCD dan DVD, banyak yang dibajak habis2an.

sedangkan untuk buku cetak, jika saya ingin membeli buku dgn pengarang dan judul ttt, jarang sekali (atau malah tidak ada) saya menemui bajakannya.

mungkin dimasa depan. buku versi cetak jg dibantu dgn versi elektroniknya. mungkin seperti ini, saya membeli buku versi cetaknya, didalamnya ada semacam username dan password untuk saya yang nantinya bisa saya pakai untuk mengakses versi elektroniknya di internet. tapi… ini cuman imajinasi saya.

mungkin ada masa transisi dari versi cetak ke versi elektronik. mungkin saja imajinasi saya ini akan digunakan pada masa transisi ini.

Leave a comment