
Selamat malam sodara sekalian…………….
kalo sodara baca tulisan ini subuh, pagi, siang ato sore, jangan dilanjutkan.
Tunggu sampe malam dulu….
Ini biar kalimat pembukanya pas……
.
.
.
.
.
Sudah malam belum?
Kalo sudah dilanjut….
Apa khabar sodara sekalian? Baek-baek saja khan?
Saya juga baek-baek kok… Berkat doa dari sodara sekalian…..
Saya mau ngudoroso nih, boleh kan?
Saya mau ngudoroso pengalaman saya naik Cipaganti. Itu lho, mobil kotak yang suka mengantar orang-orang dari Jakarta ke Bandung. Tapi juga bisa nganter dari Bandung ke Jakarta.
Ini kali pertamanya saya naik Cipaganti.
Pengalaman pertama dengan Cipaganti ini banyak kenangannya.
Maklumlah, wong ya namanya baru pertama kali jadi masih belum tau apa-apa.
Jadi jangan ditertawakan ya sodara sekalian.
Kalo sodara sekalian tertawa kan saya jadi malu….
Tuh kan, muka saya yang manis ini sudah memerah. Halah…….
Pengalaman saya ini dimulai pas mbayar tiket….
Uedan… larang tenan alias mahal banget… 70 ribu.
Padahal setau saya travel-travel lainnya dengan tujuan yang sama cuma 45 ribu.
Jadi ya :waduh…… salah pilih travel.
Saya pun mikir, duit segitu kalo dibuat beli nasi dengan sayur daun singkong plus ikan kembung goreng di warteg deket kantor bisa dapet sepuluh bungkus. Hihihihihihi………
Tapi maap, jangan anggap selera makan saya kayak gitu lho.
Itu cuma perumpamaan alias percontohan alias perbandingan.
Lanjut ceritanya.
Nah, pas registrasi di loket, saya di kasih tau kalo berangkatnya sama dua orang lagi. Saya pun disuruh pilih tempat duduk. Saya pilih duduk dekat pintu masuk.
Nah, tapi pas mau berangkat, kira-kira pukul tujuh kurang sekian menit, Saya diberitahu sama pak supir kalau ternyata saya berangkat sendirian. Dua penumpang lainnya membatalkan perjalanan mereka.
Saya pun kecewa berat. Soalnya pas mbayar tiket tadi, saya liat nama penumpang lainnya itu Dini sama Lala. Dari namanya saya membayangkan temen perjalanan saya ini cuantik-cuantik atau kalau istilah bandungnya itu geulis …… siapa tahu bisa kenalan trus dapet nomor telponnya. (ngarep mode on*).
Tetapi Ya sudahlah………………..(harap didendangkan seperti Bondan Prakoso ya….)
Akhirnya saya pun memilih duduk di samping pak supir yang giat bekerja. Mengendali mobil supaya baik jalannya.
Lanjut lagi ceritanya,
pas keluar dari pool Cipaganti, suasana masih sepi tak ada pembicaraan antara saya dengan Pak Supir yang giat bekerja. Biar agak semarak sedikit, saya mencoba membuka percakapan sama pak supir.
Perbincangan pun mengalir mulus. Dari sekedar basa-basi seperti pertanyaan sudah lama atau belum jadi pengemudi Cipaganti sampai ke percakapan yang cukup serius mengenai asal-muasal kemacetan di Bandung, asal muasal nama bandung, asal muasal benua Amerika sampai asal muasal bumi ini. (ini beneran lho, jangan dianggap serius)
Dari perbincangan antara saya dengan pak supir yang giat bekerja, saya pun bisa tahu kalo nama Pak supir yang giat bekerja ini adalah Abdul Rohim. Dia baru setahun ini menjadi pengemudi Cipaganti. Pak Abdul yang ternyata adalah tipe mendongeng ini bercerita mengenai pengalaman hidupnya. Ceritanya mengalir tanpa banyak saya tanya. Alirannya kayak sungai ciliwung saat musim ujan: DERES DAN MELUAP-LUAP
Sebelum menjadi pengemudi Cipaganti, pekerjaaannya ternyata juga mengemudi. Tetapi hebatnya, dia tidak mengemudi di Indonesia. Selama tujuh tahun dia mengemudi bus sekolah di Saudi Arabia. Hebat kan? Dari ceritanya juga saya tahu kalo penghasilan mengemudi bus sekolah di Saudi dengan travel Jakarta Bandung tak berbeda jauh. Sebab itulah ia memilih untuk pulang ke Indonesia dan menjadi pengemudi Cipaganti saja.
Tetapi saya berpikir, untuk memutuskan itu, kenapa harus menunggu tujuh tahun. Kenapa tak dari dulu. Tapi saya tak berani menanyakan itu sama Pak Abdul. Soalnya ia terus yang berbicara. Tak enak memotong ceritanya, enakan motong tumpeng.
Menurut Pak Abdul, ada beberapa keuntungan dari mengemudi bus sekolah di Saudi itu. Ia bisa pergi haji, bisa umroh berkali-kali juga.
Aku pun cuma bisa menimpali. Alhamdulilah…..
Di lampu merah daerah yang tidak saya tahu, ia berhenti bercerita. Karena penasaran dan butuh hiburan, saya pun kemudian bertanya kembali ke Pak Abdul. Sebelum ke Saudi apa pekerjaannya?
Ia pun kemudian melanjutkan ceritanya. Di tahun 90-an. Ia adalah seorang pengusaha kolam terapung alias karamba. Kolamnya terletak sebuah danau yang saya lupa namanya meskipun dia menyebutnya. Yang jelas pinggiran Bandung. Dari ceritanya saya bisa membayangkan kesuksesan dia. Setiap minggu mengirim ratusan kilo ikan mas dan mujaer ke Jakarta.
Tapi kesuksesan Abdul ini tak berlangsung lama. Dalam sekejap kekayaannya ludes.
“Saya kena tipu. Maklumlah, saya kan orang kampung, jadi gampang ditipu,” katanya memelas.
Sayang, ceritanya berhenti lagi karena ia harus mengambil tiket jalan tol.
Selepas dari loket tol, Pak Abdul menggeber lagi gas.
Karena penasaran, saya pun bertanya: “Ditipu gimana pak?”
Dia pun kemudian berkisah:
Waktu itu ada temen yg juga pemilik kolam yang nawarin penggandaan uang. Katanya ada orang Jakarta yang bisa menggandakan duit. Pak Abdul tadinya tak percaya, tapi karena dipaksa temennya itu akhirnya dia mau. Pak Abdul pun bertemu dengan orang jakarta itu di Jakarta. Persisnya di rumahnya orang jakarta itu. dia menyodorkan sebagian duitnya hasil panen.
Seminggu kemudian, dia kembali ke Jakarta bertemu dengan orang Jakarta itu. Dan ternyata benar. Duit Pak Abdul dikembalikan sama orang Jakarta itu dua kali lipat. Kemudian orang Jakarta itu bilang ke Pak Abdul. Mendingan duitnya jangan diambil, tetapi digandakan lagi. Pak Abdul pun setuju. Seminggu kemudian dia balik lagi dan ternyata duitnya itu kembali dua kali lipat lagi.
Si orang Jakarta pun kembali menyarankan agar duitnya tak diambil lagi. Bahkan si orang Jakarta itu menyarankan agar Pak Abdul menambahi lagi duitnya itu, biar jadinya lebih banyak. Pak Abdul pun setuju. Pak Abdul pulang, dia menjual semua ikan di kolamnya. Yang masih muda pun ia jual murah. Bahkan karena ingin hasil yang lebih besar, dia pun berhutang ke beberapa tetangga. Hasilnya, dia berhasil mengumpulkan duit 40 juta. Duit itu ia bawa ke orang Jakarta itu. Si orang jakarta pun berjanji seminggu lagi duitnya bisa berlipat-lipat jumlahnya.
Seminggu kemudian di hari yang dijanjikan, Pak Abdul pun datang ke rumah orang jakarta itu. Tapi apa yang terjadi. Rumah itu kosong tak berpenghuni. Pak Abudul ditipu. Alhasil, dia pulang dengan penuh kesedihan. Usahanya hancur dan ia pun menanggung hutang ke tetangga-tetangganya. Kejadian inilah yang membuat Pak Abdul pergi ke Saudi. Ia malu dengan tetangga-tetangganya. Jadi dia pun lari ke Saudi. Setiap dua bulan sekali dia kirim uang ke rumah, untuk biaya hidup anak istrinya sekaligus membayar hutang ke tetangga-tetangganya.
Saya trenyuh mendengar cerita Pak Abdul. Kalo sodara bagemana? Trenyuh juga ga? Apa malah pernah mengalami kejadian yang sama kayak Pak Abdul?

One Comment
Huahahhaaa lucu jalan ceritanya… eh salah yahh hiks hiks…trenyuh kok.. tapi yg penting skrng pak Abdul sdh BANGKIT sanjaya… yg penting utang2e dah lunas kan…(pasti blm nanya ya