CUMA CUMA = Rp 5 ribu

1 12 2009

Sodara,
apa khabar? Baek saja khan?
Lama ndak jumpa ni….
jadi kangen pengen ngudoroso sama njenengan sekalian.
Boleh kan saya ngudoroso? Begini ni ceritanya:

Saya tadi ndak sengaja pas jalan-jalan mampir ke kantor imigrasi.
Bukan….
Bukan saya yang cari paspor. saya cuma nganterin teman saja kok.
jadi ceritanya, pas saya jalan-jalan, kepikiran mampir ke tempat teman saya. soalnya pas kostnya deket sama jalan yang saya jalan-jalani. Nah, pas mampir, ternyata teman saya ini mau pergi ke kantor imigrasi. Dia mau pergi ke Now York (tanpa karto). Ya sudah, saya ikut saja.

Nah, pas dateng ke kantor imigrasi, saya sama temen saya cuma celingak-celinguk. ndak tau mau kemana. Lha iya, soalnya ndak ada plang alias papan petunjuk yang nyuruh kami harus kemana. Akhirnya saya sama temen saya masuk ke salah satu ruangan yang banyak dimasukin oleh orang-orang dengan kata lain mbuntuti saja. Nah, di ruangan itu ternyata banyak loket-loket. Saya sama temen saya cuma saling memandang bingung dan tanpa rasa cinta (Halah, opo tho iki).

Trus kami memutar dari satu loket ke loket lainnya. putaran itu kami lakukan sebanyak tiga kali. Persis perintah mbah dukun (Halah). Selama tiga kali itu saya dan teman saya pasang mata jelas-jelas. Berharap dapat menemukan di loket mana seharusnya kami berlabuh pertama kali. tetapi ternyata usaha kami sia-sia. Kami tak menemukan dimana kami harus mampir minta ijin buat bikin paspor.

Akhirnya, saya dan temen saya ini memutuskan untuk bertanya. Suit… Saya kalah dan saya harus bertanya. Kemudian saya memberanikan diri bertanya kepada seorang laki-laki kumisan yang duduk di sebuah meja yang ada di dekat pintu masuk ruangan. “Pak..pak…. kalo mau bikin paspor baru gimana ya?” tanya saya.

Lelaki kumisan itu menggeleng dan kemudian menunjuk salah satu orang yang sedang merokok di luar ruangan. Wooo… ternyata kekali kumisan itu hanya penunggu meja saja. Bukan seorang informan. Dan saya pun mengajak teman saya untuk suit lagi. Ternyata teman saya ndak mau. Karena katanya suit pertama itu suit paket. Jadi informasi yang didapat digali oleh yang kalah suit harus sampai tuntas.

Mau ndak mau saya pun bertanya kembali. Dengan percaya diri saya merogoh saku dan mengeluarkan rokok. Dalam pikiran saya: saya akan mendekati orang yang merokok itu dengan meminjam korek. Pendekatan yang sederhana tetapi biasanya berhasil. Saya pun langsung mendekatinya dan berbasa-basi:”Boleh pinjam apinya pak?” tanyaku.
“Silakan…” katanya dengan ramah.

Setelah menyalakan rokok, saya pun mengembalikan korek bapak tadi. Eh, ternyata-eh ternyata. bapak itu setelah menerima korek langsung membuang rokoknya yang tinggal puntung dan bergegas ke dalam ruangan.

Huaduh… basa-basiku ternyata basi. Akhirnya saya pun mententramkan diri dahulu sambil menghabiskan rokok. Setelah itu ke dalam ruangan dan menghampiri bapak perokok itu lagi. Trus bertanya bagaimana prosedur pembuatan paspor baru. Bapak itu kemudian menjelaskan bahwa saya harus membeli formulir dahulu di koperasi, kemudian mengisi formulir dan setelah selesai semua mengambil kartu antrian untuk memasukkan formulir itu ke loket satu alias loket penerimaan formulir.

Setelah bapak itu selesai menjelaskan, saya pun beranjak untuk memberikan penjelasan kepada teman saya mengenai penjelasan yang bapak tadi jelaskan kepada (saya piye tho iki, kok ra jelas).

Dan tugas saya selesai. Teman saya pun segera persi membeli formulir pendaftaran dan segera mengisinya. Sedikit saya tertawa pilu saat melihat teman saya ini mengisi formulir. Bukan soal mengisinya, tetapi ada kata-kata di dalam formulir itu yang memilukan. di atas formulir itu ada cap besar dengan tinta merah. Tulisannya: “CUMA CUMA”. Padahal, teman saya bilang kalo formulir yang satu lembar itu dia beli seharga Rp 5 ribu.

Saya pun berpikiran positif. Saya mikir, kemungkinan besar si tukang bikin cap itu salah menerima order dari karyawan imigrasi. Mungkin pesanannya adalah “CUMA 5 RIBU” tetapi si tukang mendengarnya CUMA CUMA.

Kalau tidak, analisis saya mengatakan kalo formulir itu memang CUMA CUMA, tetapi map yang diberikan beserta formulir itu harganya RP 5 ribu. Memang, saat di koperasi, teman saya menerima formulir dan juga map. Itu menurut analisis saya lho. Bisa juga salah lho… Jangan dijadikan dasar teori untuk skripsi atau tesis lho….. Benerran lho…….

Kembali ke cerita, setelah itu ia mengambil nomor antrian. Waduh…. ia mendapat nomor 299. sedangkan di papan petunjuk elektronik saat ini nomor antrian baru menyentuh angka 187. Waduh….. lama sekalllleeeeee……………

Akhirnya saya pun sepakat untuk menemani teman saya menunggu antrian. Ya mau gimana lagi. saya terjebak. Di tempat teman saya tadi saya memutuskan untuk memarkir motor saya di sana dan memilih membonceng dia. Artinya saya tidak bisa langsung cabut. Walah biyung…..

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun kami lalui bersama. (halah). Dari jam 10 pagi kami menunggu. Sampai akhirnya panggilan nomor urut kami diundang di jam setengah tiga.

Merasa tak ingin ketinggalan momen, saya pun ikut teman saya melongok di loket pertama itu.
Dengan wajah dingin mbak yang didalam loket berbicara:
MB: Mau apa?
TS: Bikin paspor mbak.
MB: Ada rencana pergi kemana?
TS: New York mbak.
MB: keperluan
TS: Tugas kantor mbak.
MB: Kapan?
TS: Minggu depan mbak.
MB: Minggu depannya tanggal berapa?
TS: Kemungkinan tanggal 6 mbak.
MB: Tidak bisa pak. Hari ini masukin formulir, foto dua hari, ambil paspor empat hari setelah foto.
MB: Jadi mungkin baru selese tanggal 8. (Keterangan situasi: saya dan teman saya ke imigrasi tanggal 1)
TS: Woooo…… (kali ini teman saya njawab ndak pake mbak)
TS: Ya ndak papa mbak. Sudah di sini sekalian bikin saja.
MB: Surat-suratnya mana?
TS: Ini mbak (teman saya menyerahkan semua persyaratan yang dibutuhkan
MB: Ini sudah. Bapak ke sini dua hari lagi buat foto sambil bawa surat keterangan ini ke loket 4 ya.
MB: NOMOR 300….. (memanggil pengantri selanjutnya masih dengan suara yang dingin)

Saya dan teman saya pun langsung serempak ngomong : HALAH……..

(MB: Mbak-nya ; TS: Teman saya)

Dan akhirnya kami pun berjalan gotai, pergi meninggalkan loket itu.

 NB:
kerugian yang diderita teman saya akibat saya ikut mengantarkan dia:
2 bungkus rokok A Mild @ Rp 10 ribu : Rp 20 ribu    |    2 porsi nasi padang ayam sayur @ Rp 12 ribu : Rp 24 ribu   |   2 kaleng Pocari Sweet @ Rp 5 ribu : Rp 10 ribu   |   6 botol fresh tea @ Rp 2,5 ribu : Rp 15 ribu   |   2 mangkuk bakso @ Rp 10 ribu : Rp 20 ribu = Total Rp 89 ribu

 

*Foto saya ambil tanpa ijin dari sini




Radionya Matiin Dong

10 11 2008

communityradiocartoon

 

 

 

Sodara,
Saya punya cerita lucu mengenai temen kuliah saya, namanya Sukmo
Ceritanya waktu itu itu pas lagi jamannya radio kampus.
Hampir semua sekolah tinggi ato universitas pasti mempunyai radio kampus.
Nah, pas waktu yang terkenal adalah radio yang dikelola sama para mahasiswa salah satu universitas negeri yang cukup terkenal.
Bisa terkenal soalnya yang luasan jangkauan pemancarnya cukup jauh, trus lagu yang diputer pun juga yang lagi hit.
Ini ceritanya bukan soal radio kampus, tetapi soal sukmo yang sebel sama temen se kostnya.

Ceritanya begini:
Waktu itu udah pukul dua malem. Rencananya Sukmo pengen tidur.
Tapi ternyata nggak bisa, soalnya temen kost sebelah kamarnya, lagi nyetel radio kampus yang terkenal itu keras banget. Berisik deh. Pas itu radio kampus itu lagi nyiarin acara salam-salaman yang live.

Ide cemerlang Sukmo muncul.
Ikutlah dia dalam acara request tersebut,
Di telpon lah radio itu:
Penyiar : Halo, radio …… nih, mau kirim salam buat siapa? Pacarnya ya, apa jam segini belum tidur? Jangan-jangan buat ibu kostnya….. (si penyiar terus nyerocos)
Sukmo: “Mbak…mbak…., radionya bisa dimatiin nggak, saya mau tidur nih, ganggu banget sih, berisik tau….”
Penyiar: “Maksudnya mas?”
Sukmo: “temen sebelah nyetel radio keras banget, ga bisa tidur nih…..”
Penyiar: “???????????”
Nb: teman saya ini juga pernah manggil bakul sate di ujung gang cuma buat minta api aja. Untung si bakul sate cuma senyum kecut aja, ga ngelempar gerobak ke dia.

 

*gambar dari sini, ngambilnya ga minta ijin