Pesbuk

23 05 2009

2

sodara……
saya mau cerita sedikit,
cerita ini tentang teknologi dan penerapannya.
cerita mengenai fesbuk
kalo saya ndak salah menduga, sodara sekalian yang sering buka internet pasti kenal sama yang namanya fesbuk.Dari anak tk sampe ibu-ibu PKK saya kira banyak yang sudah punya akun di fesbuk.
Nah, ternyata teman-teman saya pun juga banyak yang sudah kenal sama fesbuk. Teman kuliah sampe teman kerja semua punya fesbuk. Malahan sekarang kalo pada ngajakin ngumpul sudah ndak pake esemes lagi, udah pada pake fesbuk. Ditulis di woll. Langsung semua pada nyaut.

Cerita ini tak jauh dari woll di fesbuk.

Ceritanya begini, saat kumpul-kumpul di koskosan saya. seorang teman saya mbawa leptop. seperti orang autis, teman saia yang bawa leptop ini ndak ikut guyon kere sama teman-teman yang laennya. dianya sibuk sendiri maen fesbuk.
Nah, suatu saat teman saya yang bawa leptop ini pergi ke belakang buat pipis alias buang air kecil alias kencing.

Nah, ada teman saya yang lainnya iseng mainin fesbuknya. di woll di tulis:
“aku saiki stress..pengen bunuh diri… rupaku elek…opo2 ra cetho…”
(aku sekarang sedang stes…. ingin bunuh diri…..wajahku jelek….. mau apa-apa ndak jelas)

tak sampe satu jam puluhan komen langsung masuk ke woll teman saya ini
5 orang langsung mengacungkan jempolnya….

dan beberapa komen pun masuk:

kowe makin aneh lek.. (kamu semakin aneh saja paman)
sabar wae,..eling karo sing kuoso (sabar saja, ingat sama yang kuasa)
Rupamu saiki elek tho mas.. Lho bukannya dari dulu? (wajahmu sekarang jelek tho kakak, bukannya sudah dari dulu?)
apik apik….diluar kebiasaan (bagus bagus, di luar kebiasaan)
kapan dar? ojo awal bulan yo…. soale wancine bayar kost.(kapan? jangan di awal bulan ya…. soalnya waktunya mbayar kos)
macbook’e diwariske aku ndisik yo… (minta warisan)

saya langsung mikir: teman-teman yang aneh…..
ada temannya mau bunuh diri kok komennya malah ndak jelas. dibantuin biar ndak bunuh diri ato gimana gitu kek… Tapi mungkin teman-teman yang komen di woll teman saya ini sudah pada tau semua kalo teman saya ini ndak bakalan bunuh diri. Jadi ya komennya gitu.

Teman saya yang lain pernah juga dikerjain dengan motif hampir sama. Teman saya yang dikerjain ini cewek. di woll nya ditulis : “lagi nonton bokep”
langsung komen yang masuk banyak…. salah satunya : “nonton bareng aku ajah…..”

kontan temen saya yang cewek ini langsung malu bukan maen……

pesbuk juga bisa bikin kerja lebih cepat dan semangat. Ceritanya begini,
Dengan motif teman temannya dalam pesbuk untuk tidak mendekati narkoba, teman saya ini menulis di woll:
” jangan pernah mencoba, hindari narkoba sebelum terlambat”

tak lama kemudian bos teman saya ini langsung komen dalam pesbuknya:
“hindari pesbuk sebelum selesai deadline!!!!”

tak butuh waktu lama, teman saya ini langsung menyelesaikan kerjanya sampai tuntas…tas…tas…tas……..

kalo sodara gimana? punya pesbuk ndak? sering komentar di perbuk ndak?





Masa Depan Media Cetak

11 01 2009

atm20funny20dogs20wacky20cash20machine 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sodara,
Cerita ini hasil ngudoroso saya dengan seorang bankirwati sebuah bank swasta.
Beberapa hari yang lalu kami memang sempat bertemu dan ngobrol. Obrolan kami mengenai masa depan industri media, khususnya media cetak.

Si bankirwati itu bertanya kepada saya, bagaimana masa depan industri industri media cetak?
Saya yang ndak tahu apa-apa ini pun hanya menjawab, “Masih bagus kok. Buktinya tahun 2008 kemarin banyak investor yang tertarik untuk masuk dalam persaingan industri media cetak. Ada beberapa koran baru,” tutur saya.

Si bankirwati itu pun bercerita, bahwa saat ini dia tak banyak membaca koran. Ia lebih suka membaca atau mencari informasi dari media online. Tentu saja, alat komunikasi yang saat ini dibawanya mendukung untuk itu. Ia membawa smart phone seri tercanggih keluaran produsen terkenal asal Finlandia.

Sedangkan media cetak, ia hanya baca sesekali saja, dengan catatan jika sempat. Dan media yang ia baca pun media tertentu. Oleh sebab itu wajar jika dia tak tau saat ini banyak koran baru. Beberapa nama koran yang saya sebutkan, ia tak mengenalnya.

Si bankirwati ini mempunyai pemikiran, kemungkinan besar masa depan media cetak di ujung tanduk. Melihat fenomena bahwa saat ini media online sudah berserakan. Media online mempunyai banyak kelebihan jika dibandingkan dengan media cetak. Tentu saja, media online lebih update informasinya. Itu yang banyak dibutuhkan orang saat ini. Untuk media cetak, paling banter saat ini hanya digunakan sebagai penghias meja tamu saja.

Saya mencoba menelusuri pemikiran si bankirwati tersebut. Dan ternyata, memang kemungkinan besar tak salah pemikiran dari bankirwati ini.

Beberapa waktu lalu, Setelah sekian lama akhirnya Pulitzer memperbolehkan media online ikut serta dalam kompetisi penghargaan jurnalistik Pulitzer. Dalam situs Pulitzer, alasan mereka membolehkan media online untuk ikut kompetisi karena saat ini media cetak Amerika Serikat sedang dalam masa suram.

Beberapa media besar menyatakan diri bangkrut dan menutup edisi cetaknya. Misalnya PC Magazine.  Pada November 2008 kemarin produk utama dari kelompok Ziff Davis Media berehenti beredar. Group media asal Amerika Serikat tersebut kini hanya menyediakan PC Magazine versi online saja.

Tribune Co., penerbit media massa terbesar nomor dua di negeri Paman Sam ini juga pada Desember kemarin menyatakan diri bankrut dan mengajukan perlindungan pailit kepada pemerintah. Salah satu yang menjadi alasan kebangkrutannya adalah tingkat pendapatan iklan untuk industri media cetak, yang menjadi andalan Tribune, merosot drastis akibat tergerus oleh pesatnya perkembangan industri layanan internet.

Tetapi kemudian, bankirwati itu kembali meralat omongannya. “Tapi kelihatannya nggak seperti itu deh, sepertinya media cetak tak bakal habis riwayatnya,” katanya. Kemudian dia pun mengungkapkan beberapa cerita mengenai industri perbankan.

Beberapa tahun lalu, saat maraknya bank mengeluarkan layanan online, banyak yang memprediksikan akan banyak kantor cabang bank akan tutup. Pasalnya, pelayanan secara face to face akan tergantikan dengan layanan online. Beberapa tahun lalu (bahkan hingga saat ini), bank-bank getol mengeluarkan layanan e banking alias electronic banking seperti ATM, internet banking, sms baking dan beberapa layanan lainnya.

Tetapi pada kenyataannya, saat ini masih banyak bank yang memperluas layanannya dengan membuka kantor-kantor cabang. Hal yang mendasarinya adalah masih banyak masyarakat Indonesia yang lebih percaya dengan layanan face to face daripada layanan online.

Dan bagaimana dengan masa depan bank, apakah layanan kantor cabang akan tergantikan dengan layanan online, bankirwati itu pun belum bisa mengatakannya. Begitu pula dengan saya, saya ndak berani menyimpulkan apakah media cetak akan tergantikan dengan media online.

Bagaimana dengan sampeyan, apakah percaya bahwa online akan menjadi masa depan bank dan media?

 

*fotonya saya ambil tanpa ijin dari sini.